Baja Ringan Ramah Lingkungan Bisa Berkontribusi pada Pengurangan Perubahan Iklim. Diana Kusumastuti, Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), berharap setiap arsitek di Indonesia dapat terus berinovasi dan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait agar mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim.

Isu lingkungan makin menguat, salah satunya mengenai perubahan iklim (climate change) yang dapat disebabkan oleh sektor konstruksi. Terutama dalam hal penebangan pohon secara liar.

Baja Ringan Ramah Lingkungan Bisa Berkontribusi pada Pengurangan Perubahan Iklim

Mengutip dari laman babelprov.go.id, penebangan hutan menghasilkan emisi gas rumah kaca. Pasalnya, pohon yang ditebang tersebut akan melepaskan karbon yang tersimpan di dalamnya. Padahal hutan berfungsi menyerap karbon dioksida. Sementara penebangan hutan akan membatasi alam untuk menyerap emisi di atmosfer.

Guna mengurangi dampak buruk tersebut, penggunaan material pengganti seperti baja ringan dinilai menjadi solusi. Lantas, apakah baja ringan juga merupakan material yang ramah lingkungan?

Diana menyampaikan hal itu saat pembukaan forum dan pameran arsitektur ARCH:ID 2025, yang berlangsung dari 8 hingga 11 Mei 2025 lalu.

Baca Juga :  Daftar Harga Baja Ringan, Berbagai Jenis, dan Ukuran Januari 2026

Sebagaimana dikutip dari siaran pers, dia mengatakan, “Salah satu strategi utama untuk meningkatkan performa arsitektur dan juga industri konstruksi adalah bagaimana mengurangi emisi karbon di sektor bangunan gedung. Di sinilah peran arsitek sangat penting.”

Diana menyebut, pemerintah terus berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca melalui upaya aksi mitigasi perubahan iklim.

Hal ini telah dirativikasi dalam UU nomor 16 tahun 2016 dan juga dokumen Nationally Determined Contibution (NDC) dimana Indonesia menargetkan penurunan NDC carbon itu sebesar 31,89 persen dengan usaha sendiri, dan 43,2 persen dengan bantuan internasional di tahun 2030. Emisi secara global ini juga termasuk embanded carbon disektor pengguna gedung.

Diana menjelaskan, salah satu langkah nyata dalam upaya mitigasi perubahan iklim dilakukan Kementerian PU dengan mengatur pemenuhan mandatory dan juga sukarela terhadap standar teknis Bangunan Gedung Hijau (BGH) dan Bangunan Gedung Cerdas (BGC).

Baca Juga :  Harga Hollow Baja Ringan Terbaru Januari 2026 Berdasarkan Jenis dan Ukuran

Menurutnya, standar teknis ini yang harus dipahami arsitek saat ini.

ā€œPrinsip BGH dan BGC ini adalah mengusung konsep reduce, reuse, dan recycle. Jadi terhadap sumber daya yang digunakan dan juga berorientasi pada siklus hidup serta menerapkan desain pasif maupun disain aktif, yang tentunya harus terintegrasi guna untuk mereduksi penggunaan energi tadi,” ungkapnya.

Selain penerapan standar teknis BGH maupun BGC dalam penyelenggaraan konstruksi, arsitek juga harus bisa mengusung land construction teknologi seperti yang sudah diterapkan kementerian PU melalui Building Information Modeling (BIM).

BIM digunakan untuk memperhitungkan bagaimana analisis beban energinya, sehingga pembangunan gedung dapat dilakukan secara efisien dan berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan harus juga didukung dengan material konstruksi yang dalam proses manufaktur, proses produksi hingga proses distribusinya menghasilkan emisi karbon yang sangat rendah.

Saat ini beberapa material yang diproduksi perseroan sedang dalam proses GSE (Greenship Solution Endorsment) untuk memberikan suatu kepastian bahwa material dalam proses produksi sampai proses distribusi menghasilkan jejak karbon yang sedikit.

Baca Juga :  Harga Coil PPGL Terbaru Januari 2026: Tren, Spesifikasi, dan Panduan Memilih Material Berkualitas

Penggunaan material ramah lingkungan, dan pemanfaatan teknologi tepat guna juga bisa bisa membantu upaya pemerintah dalam memitigasi perubahan iklim.

Hal ini dibuktikan dengan penggunan material Purlin dengan sistem Domus Fastrac.

Dalam pembangunan desain Ruang Riung perseroan, hampir tidak ada limbah yang dihasilkan dilokasi pembangunan. Hal ini terjadi karena dengan system Domus Fastrac, semua material sudah diperhitungkan dengan program terkomputerisasi dan dipotong sesuai kebutuhan di pabrik sebelum dikirim ke lokasi pembangunan.

Baja Ringan Ramah Lingkungan Bisa Berkontribusi pada Pengurangan Perubahan Iklim

Semoga bermanfaat šŸ™‚

Sumber : babelprov.go.id